Kemplang Palembang : A Special Gift

Kemplang Palembang : A Special Gift
===============================================

Minggu, 4 Februari 2007

Aku n alle melakukan perjalanan dinas ) menuju kota Palembang.
Selama seminggu sebelumnya aku, alle, pahmi, markojay, dan deco
disibukkan dengan persiapan untuk presentasi di depan para pejabat
berseragam ijo n coklat yang notabene punya lahan basah. Lahan basah?
yap, gimana nggak lahan basah wong mereka ini yang nanganin duit rakyat
berpuluh-puluh milyar buat ngebangun yang namanya jalan rusak, jembatan
jebol, irigasi mampet dll. Ya, pengalamanku sendiri ngeliatin
jalan-jalan penghubung di sumatera, entah itu namanya jalan nasional,
provinsi ato apalah, selalu aja ada yang gak bener rusaklah. retaklah.
dikemanain duit sebanyak itu tadi yah ?

Seminggu itu, aku menderita flu berat. Hidung mampet, bersin-bersin(ada yg ngomongin aku kali?), dan batuk pilek.
Sebenarnya pengen istirahat barang sehari dua hari, namun pekerjaan
harus tetap dilakuin. Mulai dari telpon bapak-bapak di ujung sana, ampe
memfotokopi modul pelatihan. huff..

Perubahan sistem yang mendadak dan penamaan yang masih aja
mengganjal, sempet membuat  otak ini pusing lah 7 keliling, tapi aku
cobain nggak terlalu
pikirin masalah-masalah itu. Yang penting aku bisa kelarin nih presentasi dan pelatihan.

Aku n Alle dianterin ama Adek n Fahmi ke Bandara Adi Sutjipto. Kata si Alle aku mirip film AADC.
ah yg bener? itu perasaan dek Alle aja kali? HweHeHehe.. )
Naik maskapai penerbangan yang lagi-lagi gak profesional, pake ditunda gitu.
Sebenarnya tiketnya dapet yang jam 7.30 eh malah ditunda jadi 9.30.
Padahal di kursi kabinnya tertera penghargaan “Low Cost Flight Award”.
Artinya kan, mereka termasuk maskapai yang cukup terpandang.
Atau jangan-jangan rendahnya biaya penerbangan tidak dibarengin dengan peningkatan keselamatan.
Aku sempet was-was juga karena nih maskapai punya banyak catatan buruk di udara.
Otakku masih terngiang akan sebuah peristiwa naas, maskapai ini pernah kehilangan sebuah pesawat di deket Sulawesi sana.

Selama di kabin, aku cuma bisa tertidur lelap karena malamnya aku cuma tidur 2 jam.
Transit di Jakarta, aku habisin dengan makan rotinya maskapai. Laper bgt belum makan dari pagi.
Berangkat lagi jam 12.30 siang. Lagi-lagi aku cuma bisa tertidur lelap.
Sampai di Bandara Sultan Machmud Badarudin II, aku n alle langsung cari
taksi bandara untuk menuju rumah salah satu staf kami di daerah kec.
sukarame, Kak Aldika. Glekh, biaya taksi ke rumah Kakak, Rp 45.000,00.
Kemaren aja pas anterin papa n mama dari adi sutjipto ke jakal km 5 aja
40.000,00. Kalo taksi kami Ini, ibaratnya dari jakal km 5 ke kridosono.
Mahal banget!

“Kak Angga, masuk lewat pintu belakang aja” Kata Dilla. Kami disambut oleh adeknya kakak yang paling kecil.
Mereka ini sebenarnya temen-temenku masa kecil di kampung sana.
Alle langsung tidur, aku masih kepikiran ama kerjaan. Yah,
sedikit-sedikit aku coba test hasil kerjaan kami di komputernya Kakak.
Lalu aku dapat telpon dari Kakak, kami disuruh ke kantor oleh Pak Azwar
Edi salah satu pimpronya buat ngejelasin acara besok pagi.
Aiihhh.. makjang-makjang, kapan aku bisa istirahat. Alhasil, kami diantar Kakak ke kantor.

Senin, 5 Februari 2007

Setelah sebelumnya download hasil kerjaan yang kelamaan, akhirnya
kami bertiga aku, alle, n aldika berangkat ke kantor naek bus yang
sukses ngebuat si alle migrain. Soale, bus-bus di palembang pada
muterin musik-musik “aliran dangdut dugem mix house music”.
Di kantor, semua peralatan dan persiapan telah dilakukan oleh pihak kantor.
Alhamdulillah, presentasi yang kami lakukan berjalan lancar. Walaupun,
aku menilai mereka kaget dengan kejutan-kejutan spesial khas kami pada
presenteasi itu. Ini terlihat, ketika aku menyerahkan plakat tanda
kerjasama, Pak Yusuf Usman (salah satu bos di kantor-red)
“tergopoh-gopoh” mencari plakat kantor mereka untuk ditukarkan dengan
plakat kami. Aku pun tersenyum kecil melihat hal ini.
Setelah sempat jeda isoma, kami pun melanjutkan acara dengan pelatihan
pengenalan internet. Alle yang bertugas kali ini. Alhamdulillah
pelatihan berjalan lancar, peserta pun terlihat antusias dengan cara
pembawaan alle yang aku nilai sangat tenang dan cool sehingga mempesona
mbak Dean dan mbak Nani yang aktif bertanya. hehehe…

Pekerjaan hari itu belumlah selesai, kami harus mengurus masalah
penamaan. Di kantor bagian penamaan itu, kami bertemu dengan bapak Jon
Kennedy (he.. mirip nama presiden sapa hayoo?). Wah, nih orang kok
kesan pertama terhadap kami begitu jelek. Dia menilai banyak
hasil-hasil kerjaan dari cv kecil seperti kami tidak dinamis, tidak
bagus, dan seperti menipu instansi-instansi pemerintah mereka. Namun
ketika dia melihat hasil kerja kami, malah dia pengen mengajak
kerjasama yang menurut pendapatku dia bertujuan untuk memenangkan
kampanye seorang kepala daerah di pilkada 2009 nanti. Lagi-lagi aku
cuma bisa tersenyum kecil mendengar dua tata cara berucapnya yang
berbeda 180 derajat hanya dalam waktu sekitar 15 menit.

Malamnya, alle berangkat ke rumah sodaranya untuk nginap di
palembang. Aku ke warnet terlebih dulu untuk mencetak kartu nama untuk
bapak-bapak birokrat tsb. Setelah itu, baru aku dapat beristirahat.
Selasa, 6 Februari 2007

Bila kemaren kami berangkat lebih siangan sekitar jam 10, hari ini
kami berangkat lebih pagi jam 8.30. Acara hari ini dilalui dengan
pelatihan yang kali ini kami bergantian mengajar.
Pada jeda instirahat, kami sempat mencicipi wisata kuliner bersama Pak
Azwar. Hehehe.. baru kali ini aku makan sate kambing dengan kuah kecap
manis pake cuka ditambah dengan pindang daging berkelas khas palembang
bangetlah!
Setelah pelatihan kami sempatkan untuk membeli oleh-oleh khas
palembang, yaitu kemplang di pelataran pasar cimbe. Seperti yang aku
duga kebanyakan para pedagang adalah orang-orang cina. Termasuk toko
yang kami masuki. Ibu yang menjaga toko David tempat kami membeli
kemplang tersebut sempat bertanya, “Wah, kakak-kakak ko dari mano bae?”
Aku heran. Kok, ibu yang pastinya terlihat lebih tua dari aku,
memanggil aku dengan sebutan kakak? Rupanya, panggilan kakak itu
seperti mas kalo di jawa. Bukan dilihat dari segi umur, tapi dari segi
penghormatan terhadap tamu pembeli. Aku n alle membeli banyak kemplang.
Pikirku, ini buat keluargaku di bengkulu dan temen-temenku di jogja
nanti.

Malamnya, Alle berangkat ke Lampung untuk menemui keluarganya di
kampungnya. Kami dianter Kakak ke stasiun. Dalam perjalanan ke stasiun,
kami melewati jembatan Ampera yang begitu indahnya dengan gemerlap
cahaya di tali-tali penyangga itu.
Kalo kata Kakak, jembatan ini hampir dipensiunkan, selain umurnya yang
sudah tua, jembatan ini sudah beberapa kali ditabrak kapal tongkang
sehingga pernah mengalami beberapa perbaikan. Selain itu kepadatan
kendaraan pada ruas jembatan tersebut memperparah kondisi badan
jembatan. Pernah Jembatan Ampera ini digunakan untuk kontes Tantangan
yang disiarkan langsung di sebuah TV. Acara ini sukses membuat
kemacetan di sepanjang badan jembatan. Jembatan Musi II yang merupakan
proyek tahun jamak menjadi solusi untuk meredakan kepadatan ini. Proyek
ini sendiri memakan biaya ratusan milyar. Jembatan Musi III ini
merupakan jembatan modern yang meniru sebuah jembatan raksasa (aku lupa
namanya apa) di Los Angeles, Amrik sana.

Setelah pulang mengantar Alle dari stasiun, aku sempat bermain game
favoritku, WE9 dengan Kak Aldika. Dengan kemenangan berturut-turut
timku Chelsea atas Inter, aku menyelesaikan sedikit pekerjaanku. Lalu
aku tidur untuk menikmati lelapnya malam Palembang.

Rabu, 7 Februari 2007

Pagi itu aku akan pulang kampung ke bengkulu naek travel. Saat makan
pagi aku sempat ngobrol bareng Kakak, bercerita masa kecil saat di
bengkulu, ketika kami masih sering nginap di mushollah, maen bola lawan
anak-anak STM, Panti, sampai cerita cinta monyet yang beredar di saat
kami masih berstatus anak ingusan.
Pagi itu, jam 10.00 aku pulang kampung.

One Response to “Kemplang Palembang : A Special Gift”

  1. ntan fm Says:

    hahaha…pasar cinde yg bnr tuh..;)

Leave a Reply