Kisah Seorang Muallaf part II
Sambungan : Kisah Seorang Muallaf
******
Saat saya masuk ke koridor masjid, umumnya, saya
tegur setiap orang yang berdiri di sekitar koridor
dengan salam dan pertanyaan kabar. Hampir semuanya
mengerti, bahwa saya sangat terbatas dalam
berbahasa Arab. Sehingga mereka akan menjawab
pertanyaan saya dengan bahasa Jerman.
Malam itu,
sapaan saya juga tertuju kepada Pemuda itu,
"Assalaamualaykum, Daniel.“
"Waalaykumusalaam, Sultan.“
"Kheif Halak?“ lanjut tanyanya.
"Alhamdulillah, mir gut. Und dir?“ (Alhamdulillah,
saya baik. Dan kamu?) sambung saya dengan bahasa
Jerman.
"Alhamdulillah, bi khoir."
Saya tertegun.
MasyaAlloh dia sangat bangga dan
lantang menjawab dengan bahasa Arab. Bara
semangatnya memecut saya untuk berusaha lebih
tahu.
Hingga akhirnya dengan "lancang“ saya
tanyakan kepadanya, "Daniel, kamu terlihat sangat
tertarik sekali dengan bahasa Arab, sedangkan saya
justru sangat tertarik untuk berkomunikasi dengan
bahasa Jerman."
Dengan serius ia menjelaskan, "saya ingin seperti
brüder-brüder yang lain, yang setiap selesai
shalat berjamaah bisa mengerti ceramah yang
dibawakan oleh imam masjid. Saya sangat malu,
karena biasanya saya hanya memandang imam tanpa
makna. Tak sepatah kata pun yang saya mengerti.
Paling, hanya ucapan salam pembuka, dan salam
penutup.
Sungguh, saya ingin sekali kelak mengerti
pesan-pesan yang imam sampaikan."
Mendengar kata-kata bersemangat itu saya semakin
melihat sinaran mutiara di wajahnya. Benar-benar
azzam yang luar biasa.
Dia melanjutkan, "Saya ingin kelak seperti Brüder
Ayat, yang sudah hampir hafal Al-Quran. Setiap
kali shalat, ayat-ayat yang dipakainya selalu
berbeda. Walau saya baru memeluk Islam, sungguh,
sangat berat sekali bagi saya untuk mencoba
menghafal surat-surat pendek di Al-quran. Itu
membuat saya cukup malu.
Semoga kelak dengan
bahasa Arab, saya tidak hanya punya bacaan shalat,
tapi juga mengerti apa yang saya lafalkan."
Untaian kalimat itu, lagi-lagi, membuat saya
terkesima. Dan teringat sebuah sms yang masuk 5
bulan yang lalu, dari Dietrich, seorang kawan
Jerman yang juga baru masuk Islam.
Sebuah kalimat
dengan tiga tanda seru di belakangnya, "Brüder,
saya sudah hafal Al-falaq!!!"
Sudah dua puluh tahun lebih saya hidup di
lingkungan keluarga Islam.
Namun ketika satu per
satu ayat-ayat Al-Quran mengisi memori kepala
saya, rasa-rasanya tidak pernah saya merasa
terharu yang sangat, layaknya kegembiraan Daniel
dan Dietrich.
*****
Setelah dengan sempurna sholat sunnah ba´da Isya.
Dengan hangatnya pemuda itu tersenyum, dan
menyalami makmum di sampingnya.
Pemuda berghamis dan berpeci putih itu adalah
Daniel Ibrahim. Muallaf yang baru mengenal Islam
dalam tempo tiga bulan. Sungguh, ia tidak hanya
berubah, namun telah ia berkilau.
Sedangkan kita?
Ya Robbi, Ihdinassirotol mustaqiim…
————————–
Brüder : Saudara laki-laki.
Dalam kaitan ini
bermakna saudara seiman.
—————————