Kisah Seorang Muallaf part I

"Neh, ada kisah seorang Muallaf yang mungkin dapat jadi bahan instropeksi untuk diri
kita betapa kita mungkin selama ini belum serius dalam mengakui bahwa
kita adalah seorang Muslim"
===============================================================================
taken from http://www.eramuslim.com/atc/oim/451d706c.htm
===============================================================================

Usai salam akhir sholat Isya, masih saya amati
paras jamaah lainnya, yang malam itu benar-benar
membuat masjid komunitas Palestina itu benar-benar
hidup. Wajah-wajah kegembiraan menyambut datangnya
bulan keagungan. Semuanya sumringah luar biasa.

Lintasan mata saya terfokus kepada seorang makmum
di deretan depan saya. Penampilannya rapih luar
biasa. Berpakaian ghamis putih, dan berpeci putih.
Dan yang lebih berkesan adalah warna kulit dan
guratan rambutnya yang memastikan saya untuk
berpendapat ia seorang muslim Jerman. Siapakah dia?

******
Jelang waktu sholat Maghrib. Pemuda itu terlihat
eksentrik dari yang lainnya. Di kala makmum yang
lainnya berassesoris peci, pemuda itu justru
terlihat bangga dengan anting dan beberapa kalung
yang melingkar di lehernya. Celana Jeans belel dan
sehelai kaos putih berlambangkan sebuah produk
ternama milik negara Paman Sam pun menyelimuti
tubuhnya. Gayanya sangat up to date dan funky.

Seakan tersihir, masih saja saya amati gerak gerik
pemuda itu. Lebih-lebih perhatian saya memuncak
ketika dia "mencoba“ sholat sunnah. Punggung dan
kedua kakinya terlihat sulit untuk rukuk dan duduk
di antara dua sujud. Jari-jari kakinya tidak
bersahabat untuk terlipat dengan sempurna. Apakah
dia seorang muallaf?

Saya penasaran untuk mencari jawabnya. Setelah
keluar dari masjid, langsung saya tanya Muhammad
-seorang kawan berkebangsaan Arab- perihal itu.
Dan dengan lantang Muhammad meng-iya-kan tanya
saya. Bahkan Muhammad langsung mengenalkan saya
kepada pemuda itu,

"Hallo Daniel, hier ist ein Student von
Indonesien. Der will mit dir kennen lernen,“
(Hallo Daniel, ini ada mahasiswa Indonesia yang
ingin berkenalan dengan kamu,)

"Hai, Ich bin Daniel.“ (Hai, saya Daniel) Sapanya
ramah, sambil menjulurkan kedua tangannya.

„Assalaamualaykum Daniel. Ich bin Sultan. Freut
mich, dich kennen zu lernen,“ (Assalaamualaykum
Daniel. Saya Sultan. Senang bisa berkenalan denganmu,)

Dia hanya tersenyum ringan. Tak ada jawab atas
salam saya. Yang membuat saya berkesimpulan dia
memang benar-benar seorang Muallaf baru. Lantunan
tasbih sempat mewarnai kekaguman saya. Bukan hanya
karena keramahannya, tapi karena dia telah
dianugerahi anugerah yang termahal, hidayah.

Sejak saat itu, setiap kali saya sempatkan untuk
sholat berjamaah di masjid itu, wajah Daniel tidak
pernah absen dari pandangan saya. Tidak hanya
kalung dan anting yang telah alpa dari tubuhnya.
Perubahan-perubahan yang terjadi di dirinya
sungguh membuat saya terkagum-kagum.

Senja itu. Setelah shalat Ashar di kampus, saya
sempatkan untuk menuju ke masjid komunitas
Palestina itu. Jaket yang biasa saya pakai,
tertinggal di sana. Ketika pintu masjid telah
terbuka, tidak ada seorang pun yang menjawab salam
saya. Dalam hati saya bergumam, "Pasti tidak ada
orang,“ dengan ringan saya jelajahi ruang depan
masjid. Jaket merah itu masih tergantung di sana,
dan segera saya ambil. Namun, sebelum anjak
meninggalkan masjid saya ingin sebentar menuju ke
kamar kecil. Ruangan tersebut telah terang. Suara
siraman air dan gesekan sikat membuat saya
berkesimpulan, ada seseorang yang sedang
membersihkan kamar mandi. Usai wudhu, saya
sempatkan untuk menyapa orang itu. Dan saya
terkejut luar biasa. "Waalaykumussalaam," Daniel
yang menjawab salam itu sembari memegang sikat!
MasyaAlloh…

******

Leave a Reply