Archive for October, 2006

Arti Kata Mudik

Saturday, October 7th, 2006

Mudik, semua orang juga tahu apa arti mudik kalo diartiin secara harfiah. Yah, singkat kata bolehlah diartiin sebagai pulang kampung. Kalo kata orang padang tuh "Pulang Basamo" (kemaren ngeliatin selebaran ajakan mahasiswa asal Sumbar untuk pulang bareng naek bis gitu).
Mudik biasanya dilakuin sebagian besar masyarakat Indonesia ketika hari-hari menjelang maupun setelah hari raya agama Islam, Idul Fitri.

Mudik menurut gua –yang notabene masih berstatus "dibiayai orang tua buat sekolah baek-baek"– adalah ketemu keluarga. Jadi, siapa pun orangnya, walaupun saat mudik kita nggak ke kampung halaman tempat kelahiran kita, yang namanya mudik bisa dipastiin tujuannya adalah ketemu keluarga, baik itu ortu, sodara kandung, ato sodara jauh.

Mau makna yang lebih dalem lagi ? Berikut ini berbagai maksud dan tujuan yang dilakuin seseorang ketika ingin mudik ke tempat keluarganya berdasarkan kisaran umurnya.

1. Para pemudik dengan umur 15-25an,
seperti mahasiswa ato anak sekolahan ato juga bisa pekerja pemula. Biasanya mereka
bermaksud ketemu keluarga baik ortu n sodara setelah menjalani perantauan. Tapi kalo yang        biasanya gua survey ma teman-teman gua, neh anak-anak kebanyakan pada pengen ketemu           temen lama maupun temen baru, ampe ketemu pacar lama maupun pacar baru. Ketika tiba di        kampung halamannya, acara yang paling diincar adalah REUNI ma temen-temen lama. Dan itu        menjadi prioritas utama sebelum ketemu keluarga!!
Bahkan, pernah gua temuin seorang oknum, ketika dia sesaat sampe di kampung halamannya
bukannya langsung ke rumah ortunya, tapi malah nginep di rumah calon mertua!! alias rumah
pacarnya :(

2. Para pemudik dengan umur 25-35an,
yah ini mungkin termasuk kaum pekerja punya sedikit waktu liburan mudik.
Mereka mudik saat-saat tiket mudik lagi melambung tinggi alias kena tuslah. Terus, baliknya
juga kena tuslah. Tuntutan kantor sih. Musti cepet balik kerja.
Gua pernah nemuin objek penderita, seorang pekerja perusahaan yang direkturnya seorang
Yahudi, menganggap Idul Fitri bukanlah suatu hari raya suatu agama, so tuh pekerja terpaksa
memanfaatkan cuti kerjanya buat mudik.
So, kaum ini adalah kaum yang bener-bener manfaatin waktu yang mepet tersebut.
Mulai dari sekedar ketemu keluarga besar untuk sungkeman pas hari raya, ketemu temen
lama, cari relasi n kenalan baru, cari ide-ide bisnis di daerahnya, ampe ketemu ma calon    
pasangan hidup beserta sekeluarganya buat ngajuin lamaran nikah, "kapan lagi euy ingat    
umur!!"
HeHeHe… Emank otak nih kaum bener-bener dipaksa untuk berpikir agar tuh umur nggak
disia-siain. Maklum para pemikir masa depan ini gak mau masa depannya suram alias         
Madesu.

3. Para pemudik dengan Umur 35an ke atas,
kaum dengan kisaran umur ini jalan pemikirannya udah sangat jauh berbeda dengan dua   
kaum di atas. Biasanya asal ketemu keluarga n sodara itu aja udah cukup kok. Contoh kaum
ini mereka yang berprofesi jauh dari keluarga seperti, TKI, TKW, ato pelaut. Mereka mudik
untuk menyenangkan keluarga setelah lama berpisah. Kalo seorang bapak misalnya, biasanya 
ngebeliin banyak oleh-oleh buat anak istrinya.

Gak semua orang beruntung bisa mudik di hari raya. Mereka yang gak beruntung ini biasanya terkendala masalah waktu, biaya, atopun tiket. Yup, masalah tiket merupakan salah satu masalah utama pemerintah menjelang hari-hari mudik se-nasional selain masalah-masalah penting laennya.  Mulai dari masalah penumpang kehabisan tiket, jalanan mudik pada rusak berat, ban bis bocor di jalan (haa??), kecelakaan bertambah pesat karena supir pada ngantuk karena abis minum semalam (ngeri!!), para calo tiket merajalela, ampe backingnya calo tiket yang ternyata oknum pejabat :(

So, bagi kaum yang beruntung bisa mudik tahun ini, bersyukurlah karena kamu bisa bertemu dengan keluarga amat kamu cintai.
Tapi, bagi kaum yang belum beruntung gak bisa mudik tahun ini, kamu pantas was-was.
Soale, kamu bakalan pening plus meriang-meriang karena dihujani pertanyaan seperti ini,
"Nak, kenapa ndak pulang? lagi sibuk po disana?", dan
"Fren, kapan kau balik? Di sini lagi asik reunian neh!", ato bisa juga
"Bang, kok abang gak pulang-pulang sih? udah 2 tahun abang gak pulang! abang dah punya yang lain ya disana?!! aku minta putus bang!!"

"HeHeHe, bagi yg bener-bener ngalamin gak mudik tahun ini, gak usah dimasukin hati yahh, it’s only jokes" 

by Your Coolest n Care Friend
Crizosaiii Okt 2006

Kisah Seorang Muallaf part II

Saturday, October 7th, 2006

Sambungan : Kisah Seorang Muallaf

******

Saat saya masuk ke koridor masjid, umumnya, saya
tegur setiap orang yang berdiri di sekitar koridor
dengan salam dan pertanyaan kabar. Hampir semuanya
mengerti, bahwa saya sangat terbatas dalam
berbahasa Arab. Sehingga mereka akan menjawab
pertanyaan saya dengan bahasa Jerman.
Malam itu,
sapaan saya juga tertuju kepada Pemuda itu,

"Assalaamualaykum, Daniel.“

"Waalaykumusalaam, Sultan.“

"Kheif Halak?“ lanjut tanyanya.

"Alhamdulillah, mir gut. Und dir?“ (Alhamdulillah,
saya baik. Dan kamu?) sambung saya dengan bahasa
Jerman.

"Alhamdulillah, bi khoir."

Saya tertegun.
MasyaAlloh dia sangat bangga dan
lantang menjawab dengan bahasa Arab. Bara
semangatnya memecut saya untuk berusaha lebih
tahu.
Hingga akhirnya dengan "lancang“ saya
tanyakan kepadanya, "Daniel, kamu terlihat sangat
tertarik sekali dengan bahasa Arab, sedangkan saya
justru sangat tertarik untuk berkomunikasi dengan
bahasa Jerman."

Dengan serius ia menjelaskan, "saya ingin seperti
brüder-brüder yang lain, yang setiap selesai
shalat berjamaah bisa mengerti ceramah yang
dibawakan oleh imam masjid. Saya sangat malu,
karena biasanya saya hanya memandang imam tanpa
makna. Tak sepatah kata pun yang saya mengerti.
Paling, hanya ucapan salam pembuka, dan salam
penutup.
Sungguh, saya ingin sekali kelak mengerti
pesan-pesan yang imam sampaikan."

Mendengar kata-kata bersemangat itu saya semakin
melihat sinaran mutiara di wajahnya. Benar-benar
azzam yang luar biasa.

Dia melanjutkan, "Saya ingin kelak seperti Brüder
Ayat, yang sudah hampir hafal Al-Quran. Setiap
kali shalat, ayat-ayat yang dipakainya selalu
berbeda. Walau saya baru memeluk Islam, sungguh,
sangat berat sekali bagi saya untuk mencoba
menghafal surat-surat pendek di Al-quran. Itu
membuat saya cukup malu.
Semoga kelak dengan
bahasa Arab, saya tidak hanya punya bacaan shalat,
tapi juga mengerti apa yang saya lafalkan."

Untaian kalimat itu, lagi-lagi, membuat saya
terkesima. Dan teringat sebuah sms yang masuk 5
bulan yang lalu, dari Dietrich, seorang kawan
Jerman yang juga baru masuk Islam.
Sebuah kalimat
dengan tiga tanda seru di belakangnya, "Brüder,
saya sudah hafal Al-falaq!!!"

Sudah dua puluh tahun lebih saya hidup di
lingkungan keluarga Islam.
Namun ketika satu per
satu ayat-ayat Al-Quran mengisi memori kepala
saya, rasa-rasanya tidak pernah saya merasa
terharu yang sangat, layaknya kegembiraan Daniel
dan Dietrich.

*****

Setelah dengan sempurna sholat sunnah ba´da Isya.
Dengan hangatnya pemuda itu tersenyum, dan
menyalami makmum di sampingnya.
Pemuda berghamis dan berpeci putih itu adalah
Daniel Ibrahim. Muallaf yang baru mengenal Islam
dalam tempo tiga bulan. Sungguh, ia tidak hanya
berubah, namun telah ia berkilau.

Sedangkan kita?
Ya Robbi, Ihdinassirotol mustaqiim…
————————–

Brüder : Saudara laki-laki.
Dalam kaitan ini
bermakna saudara seiman.
—————————

Taken From http://www.eramuslim.com/atc/oim/451d706c.htm

Kisah Seorang Muallaf part I

Saturday, October 7th, 2006

"Neh, ada kisah seorang Muallaf yang mungkin dapat jadi bahan instropeksi untuk diri
kita betapa kita mungkin selama ini belum serius dalam mengakui bahwa
kita adalah seorang Muslim"
===============================================================================
taken from http://www.eramuslim.com/atc/oim/451d706c.htm
===============================================================================

Usai salam akhir sholat Isya, masih saya amati
paras jamaah lainnya, yang malam itu benar-benar
membuat masjid komunitas Palestina itu benar-benar
hidup. Wajah-wajah kegembiraan menyambut datangnya
bulan keagungan. Semuanya sumringah luar biasa.

Lintasan mata saya terfokus kepada seorang makmum
di deretan depan saya. Penampilannya rapih luar
biasa. Berpakaian ghamis putih, dan berpeci putih.
Dan yang lebih berkesan adalah warna kulit dan
guratan rambutnya yang memastikan saya untuk
berpendapat ia seorang muslim Jerman. Siapakah dia?

******
Jelang waktu sholat Maghrib. Pemuda itu terlihat
eksentrik dari yang lainnya. Di kala makmum yang
lainnya berassesoris peci, pemuda itu justru
terlihat bangga dengan anting dan beberapa kalung
yang melingkar di lehernya. Celana Jeans belel dan
sehelai kaos putih berlambangkan sebuah produk
ternama milik negara Paman Sam pun menyelimuti
tubuhnya. Gayanya sangat up to date dan funky.

Seakan tersihir, masih saja saya amati gerak gerik
pemuda itu. Lebih-lebih perhatian saya memuncak
ketika dia "mencoba“ sholat sunnah. Punggung dan
kedua kakinya terlihat sulit untuk rukuk dan duduk
di antara dua sujud. Jari-jari kakinya tidak
bersahabat untuk terlipat dengan sempurna. Apakah
dia seorang muallaf?

Saya penasaran untuk mencari jawabnya. Setelah
keluar dari masjid, langsung saya tanya Muhammad
-seorang kawan berkebangsaan Arab- perihal itu.
Dan dengan lantang Muhammad meng-iya-kan tanya
saya. Bahkan Muhammad langsung mengenalkan saya
kepada pemuda itu,

"Hallo Daniel, hier ist ein Student von
Indonesien. Der will mit dir kennen lernen,“
(Hallo Daniel, ini ada mahasiswa Indonesia yang
ingin berkenalan dengan kamu,)

"Hai, Ich bin Daniel.“ (Hai, saya Daniel) Sapanya
ramah, sambil menjulurkan kedua tangannya.

„Assalaamualaykum Daniel. Ich bin Sultan. Freut
mich, dich kennen zu lernen,“ (Assalaamualaykum
Daniel. Saya Sultan. Senang bisa berkenalan denganmu,)

Dia hanya tersenyum ringan. Tak ada jawab atas
salam saya. Yang membuat saya berkesimpulan dia
memang benar-benar seorang Muallaf baru. Lantunan
tasbih sempat mewarnai kekaguman saya. Bukan hanya
karena keramahannya, tapi karena dia telah
dianugerahi anugerah yang termahal, hidayah.

Sejak saat itu, setiap kali saya sempatkan untuk
sholat berjamaah di masjid itu, wajah Daniel tidak
pernah absen dari pandangan saya. Tidak hanya
kalung dan anting yang telah alpa dari tubuhnya.
Perubahan-perubahan yang terjadi di dirinya
sungguh membuat saya terkagum-kagum.

Senja itu. Setelah shalat Ashar di kampus, saya
sempatkan untuk menuju ke masjid komunitas
Palestina itu. Jaket yang biasa saya pakai,
tertinggal di sana. Ketika pintu masjid telah
terbuka, tidak ada seorang pun yang menjawab salam
saya. Dalam hati saya bergumam, "Pasti tidak ada
orang,“ dengan ringan saya jelajahi ruang depan
masjid. Jaket merah itu masih tergantung di sana,
dan segera saya ambil. Namun, sebelum anjak
meninggalkan masjid saya ingin sebentar menuju ke
kamar kecil. Ruangan tersebut telah terang. Suara
siraman air dan gesekan sikat membuat saya
berkesimpulan, ada seseorang yang sedang
membersihkan kamar mandi. Usai wudhu, saya
sempatkan untuk menyapa orang itu. Dan saya
terkejut luar biasa. "Waalaykumussalaam," Daniel
yang menjawab salam itu sembari memegang sikat!
MasyaAlloh…

******

Nyanyikanlah Kesabaranmu..

Tuesday, October 3rd, 2006

Jogja makin berevolusi ke arah padang pasir tanpa pasir..

Dalam bulan Ramadhan ini mulai jam 8 pagi ampe jam 16:30. Jogja bagai gurun Arab yang siap menyengat makhluk-makhluk diatasnya. Selalu begitu..
Wiihhh, sambil ngelap nih dehidrasi, gua terus mengendarai motor dari pagi ampe sore nyari-nyari titipan kakak gua, temen gua, sepupu gua, sambil sempatin daftar yudisium.

Sebelum mudik buat lebaran, gua diamanahin bawa titipan pas balik ntar.
Tapi, ada aja masalah yang ditemuin tiap kali mo selesain satu kerjaan.

Mo beliin voucher titipan kakak gua, tapi barangnya lagi langka bgt bin mahal pula. Udah cari di tiga tempat yang jaraknya berjauhan tetep aja langka euy.
"huff.. Moga ntar ketemu deh…"

Legalisir ijazah kakak gua di UII atas. Prosedurnya ribet gak kayak di MIPA yang cuma di satu tempat baik itu bayarnya dan legalisirnya. Di UII, gua musti bayar di loket bank di rektoratnya trus baru ke FTI buat legalisirnya. Selesai legalisirnya dalam tempo 4-5 hari. That’s very long tempo.

Cari gitar akustik-elektrik, dah survey2 di tiga tempat. Hmm, kayaknya ada yg cocok. Tapi, pas ketemu ma Papanya sepupuku, eh yg ada malah diminta cari yg biasa aja.
"huff.. Moga ntar bisa dicari seperti yang dimauin deh.."

Cari pesenan DVD Combo n kalkulator Casio FX buat temen gua. Gua dah survey jg di beberapa tempat nih. Hasilnya, ada yang lumayan murah dan sesuai dengan yang diminta.
Tapi.. "aduh jangan pake duitku dulu donk, I’m in critical financial condition."
So.. Kayaknya pembeliannya tertunda.

Dengan jadwal mudik tanggal 9 Okt ini, gua pengen selesain semua kerjaan ini.
Mulai daftar yudisium dah kelar tinggal nunggu pengumumannya aja. Kemaren dah
isi draft nilai seluruh matkul gua sambil isi judul TA dalam bhs
inggris. Gua coba daftar wisuda (5-20 okt) yg sangat mepet waktunya dengan waktu mudik gua.

Alhamdulillah, walaupun badan terasa capek, pegel, meriang-meriang, gua selalu coba untuk
bersabar untuk paling tidak gua udah jalanin segala amanah yg udah
diberikan ma gua.
Jadi, nyanyikanlah kesabaranmu..