Pindahan Yuk…
May 28th, 2007 by anggakrisosaSaudara-saudaraku yang kuhormati dan kusayangi, blog saya telah pindah rumah ke alamat www.krisosa.wordpress.com. So, silakan kunjungi yah… Jangan lupa beri komentarnya, okay..!!
Saudara-saudaraku yang kuhormati dan kusayangi, blog saya telah pindah rumah ke alamat www.krisosa.wordpress.com. So, silakan kunjungi yah… Jangan lupa beri komentarnya, okay..!!
Hilang..
“Aku sudah penat dan jenuh melihat tingkahmu..”
“Walau pikiran, nurani, dan tubuh ini merasa lelah, namun kusempatkan waktuku tuk ceria dan bertanya apa kabarmu hari itu.”
“Telah kucoba tuk memahami apa kehendakmu. Tapi, yang ada hanya prasangka buruk dan kemungkinan-kemungkinan negatif lainnya.”
“Dan ketika rasa itu mulai menghilang, kau tetap tak peduli akan adanya. Semua yang kulakukan hanya akan membuatmu tersenyum sinis akan kehadiranku yang tak pernah diinginkan”
“Sudahlah..”
“Mungkin kini sudah saatnya aku menyingkir. Percuma kuhabiskan waktu untuk terus berangan-angan akan dirimu. Biarlah mereka yang berpotensi lebih dariku, menjadi penawar rasa rindumu.”
“Setelah ini, aku hanya akan kembali menjadi orang yang tak berbalur keindahan dirimu.”
“Maaf, ini memang karena kemauanku dan akibat dari berbagai kejadian yang aku alami akhir-akhir ini.”
“Sekarang, aku hanya ingin katakan selamat tinggal pada rasa itu.”
“Semoga, rasa itu akan datang lagi di saat yang tepat dan aku takkan lagi menyia-nyiakannya.”
Kemplang Palembang : A Special Gift
===============================================
Minggu, 4 Februari 2007
Aku n alle melakukan perjalanan dinas
menuju kota Palembang.
Selama seminggu sebelumnya aku, alle, pahmi, markojay, dan deco
disibukkan dengan persiapan untuk presentasi di depan para pejabat
berseragam ijo n coklat yang notabene punya lahan basah. Lahan basah?
yap, gimana nggak lahan basah wong mereka ini yang nanganin duit rakyat
berpuluh-puluh milyar buat ngebangun yang namanya jalan rusak, jembatan
jebol, irigasi mampet dll. Ya, pengalamanku sendiri ngeliatin
jalan-jalan penghubung di sumatera, entah itu namanya jalan nasional,
provinsi ato apalah, selalu aja ada yang gak bener rusaklah. retaklah.
dikemanain duit sebanyak itu tadi yah ?
Seminggu itu, aku menderita flu berat. Hidung mampet, bersin-bersin(ada yg ngomongin aku kali?), dan batuk pilek.
Sebenarnya pengen istirahat barang sehari dua hari, namun pekerjaan
harus tetap dilakuin. Mulai dari telpon bapak-bapak di ujung sana, ampe
memfotokopi modul pelatihan. huff..
Perubahan sistem yang mendadak dan penamaan yang masih aja
mengganjal, sempet membuat otak ini pusing lah 7 keliling, tapi aku
cobain nggak terlalu
pikirin masalah-masalah itu. Yang penting aku bisa kelarin nih presentasi dan pelatihan.
Aku n Alle dianterin ama Adek n Fahmi ke Bandara Adi Sutjipto. Kata si Alle aku mirip film AADC.
ah yg bener? itu perasaan dek Alle aja kali? HweHeHehe.. ![]()
Naik maskapai penerbangan yang lagi-lagi gak profesional, pake ditunda gitu.
Sebenarnya tiketnya dapet yang jam 7.30 eh malah ditunda jadi 9.30.
Padahal di kursi kabinnya tertera penghargaan “Low Cost Flight Award”.
Artinya kan, mereka termasuk maskapai yang cukup terpandang.
Atau jangan-jangan rendahnya biaya penerbangan tidak dibarengin dengan peningkatan keselamatan.
Aku sempet was-was juga karena nih maskapai punya banyak catatan buruk di udara.
Otakku masih terngiang akan sebuah peristiwa naas, maskapai ini pernah kehilangan sebuah pesawat di deket Sulawesi sana.
Selama di kabin, aku cuma bisa tertidur lelap karena malamnya aku cuma tidur 2 jam.
Transit di Jakarta, aku habisin dengan makan rotinya maskapai. Laper bgt belum makan dari pagi.
Berangkat lagi jam 12.30 siang. Lagi-lagi aku cuma bisa tertidur lelap.
Sampai di Bandara Sultan Machmud Badarudin II, aku n alle langsung cari
taksi bandara untuk menuju rumah salah satu staf kami di daerah kec.
sukarame, Kak Aldika. Glekh, biaya taksi ke rumah Kakak, Rp 45.000,00.
Kemaren aja pas anterin papa n mama dari adi sutjipto ke jakal km 5 aja
40.000,00. Kalo taksi kami Ini, ibaratnya dari jakal km 5 ke kridosono.
Mahal banget!
“Kak Angga, masuk lewat pintu belakang aja” Kata Dilla. Kami disambut oleh adeknya kakak yang paling kecil.
Mereka ini sebenarnya temen-temenku masa kecil di kampung sana.
Alle langsung tidur, aku masih kepikiran ama kerjaan. Yah,
sedikit-sedikit aku coba test hasil kerjaan kami di komputernya Kakak.
Lalu aku dapat telpon dari Kakak, kami disuruh ke kantor oleh Pak Azwar
Edi salah satu pimpronya buat ngejelasin acara besok pagi.
Aiihhh.. makjang-makjang, kapan aku bisa istirahat. Alhasil, kami diantar Kakak ke kantor.
Senin, 5 Februari 2007
Setelah sebelumnya download hasil kerjaan yang kelamaan, akhirnya
kami bertiga aku, alle, n aldika berangkat ke kantor naek bus yang
sukses ngebuat si alle migrain. Soale, bus-bus di palembang pada
muterin musik-musik “aliran dangdut dugem mix house music”.
Di kantor, semua peralatan dan persiapan telah dilakukan oleh pihak kantor.
Alhamdulillah, presentasi yang kami lakukan berjalan lancar. Walaupun,
aku menilai mereka kaget dengan kejutan-kejutan spesial khas kami pada
presenteasi itu. Ini terlihat, ketika aku menyerahkan plakat tanda
kerjasama, Pak Yusuf Usman (salah satu bos di kantor-red)
“tergopoh-gopoh” mencari plakat kantor mereka untuk ditukarkan dengan
plakat kami. Aku pun tersenyum kecil melihat hal ini.
Setelah sempat jeda isoma, kami pun melanjutkan acara dengan pelatihan
pengenalan internet. Alle yang bertugas kali ini. Alhamdulillah
pelatihan berjalan lancar, peserta pun terlihat antusias dengan cara
pembawaan alle yang aku nilai sangat tenang dan cool sehingga mempesona
mbak Dean dan mbak Nani yang aktif bertanya. hehehe…
Pekerjaan hari itu belumlah selesai, kami harus mengurus masalah
penamaan. Di kantor bagian penamaan itu, kami bertemu dengan bapak Jon
Kennedy (he.. mirip nama presiden sapa hayoo?). Wah, nih orang kok
kesan pertama terhadap kami begitu jelek. Dia menilai banyak
hasil-hasil kerjaan dari cv kecil seperti kami tidak dinamis, tidak
bagus, dan seperti menipu instansi-instansi pemerintah mereka. Namun
ketika dia melihat hasil kerja kami, malah dia pengen mengajak
kerjasama yang menurut pendapatku dia bertujuan untuk memenangkan
kampanye seorang kepala daerah di pilkada 2009 nanti. Lagi-lagi aku
cuma bisa tersenyum kecil mendengar dua tata cara berucapnya yang
berbeda 180 derajat hanya dalam waktu sekitar 15 menit.
Malamnya, alle berangkat ke rumah sodaranya untuk nginap di
palembang. Aku ke warnet terlebih dulu untuk mencetak kartu nama untuk
bapak-bapak birokrat tsb. Setelah itu, baru aku dapat beristirahat.
Selasa, 6 Februari 2007
Bila kemaren kami berangkat lebih siangan sekitar jam 10, hari ini
kami berangkat lebih pagi jam 8.30. Acara hari ini dilalui dengan
pelatihan yang kali ini kami bergantian mengajar.
Pada jeda instirahat, kami sempat mencicipi wisata kuliner bersama Pak
Azwar. Hehehe.. baru kali ini aku makan sate kambing dengan kuah kecap
manis pake cuka ditambah dengan pindang daging berkelas khas palembang
bangetlah!
Setelah pelatihan kami sempatkan untuk membeli oleh-oleh khas
palembang, yaitu kemplang di pelataran pasar cimbe. Seperti yang aku
duga kebanyakan para pedagang adalah orang-orang cina. Termasuk toko
yang kami masuki. Ibu yang menjaga toko David tempat kami membeli
kemplang tersebut sempat bertanya, “Wah, kakak-kakak ko dari mano bae?”
Aku heran. Kok, ibu yang pastinya terlihat lebih tua dari aku,
memanggil aku dengan sebutan kakak? Rupanya, panggilan kakak itu
seperti mas kalo di jawa. Bukan dilihat dari segi umur, tapi dari segi
penghormatan terhadap tamu pembeli. Aku n alle membeli banyak kemplang.
Pikirku, ini buat keluargaku di bengkulu dan temen-temenku di jogja
nanti.
Malamnya, Alle berangkat ke Lampung untuk menemui keluarganya di
kampungnya. Kami dianter Kakak ke stasiun. Dalam perjalanan ke stasiun,
kami melewati jembatan Ampera yang begitu indahnya dengan gemerlap
cahaya di tali-tali penyangga itu.
Kalo kata Kakak, jembatan ini hampir dipensiunkan, selain umurnya yang
sudah tua, jembatan ini sudah beberapa kali ditabrak kapal tongkang
sehingga pernah mengalami beberapa perbaikan. Selain itu kepadatan
kendaraan pada ruas jembatan tersebut memperparah kondisi badan
jembatan. Pernah Jembatan Ampera ini digunakan untuk kontes Tantangan
yang disiarkan langsung di sebuah TV. Acara ini sukses membuat
kemacetan di sepanjang badan jembatan. Jembatan Musi II yang merupakan
proyek tahun jamak menjadi solusi untuk meredakan kepadatan ini. Proyek
ini sendiri memakan biaya ratusan milyar. Jembatan Musi III ini
merupakan jembatan modern yang meniru sebuah jembatan raksasa (aku lupa
namanya apa) di Los Angeles, Amrik sana.
Setelah pulang mengantar Alle dari stasiun, aku sempat bermain game
favoritku, WE9 dengan Kak Aldika. Dengan kemenangan berturut-turut
timku Chelsea atas Inter, aku menyelesaikan sedikit pekerjaanku. Lalu
aku tidur untuk menikmati lelapnya malam Palembang.
Rabu, 7 Februari 2007
Pagi itu aku akan pulang kampung ke bengkulu naek travel. Saat makan
pagi aku sempat ngobrol bareng Kakak, bercerita masa kecil saat di
bengkulu, ketika kami masih sering nginap di mushollah, maen bola lawan
anak-anak STM, Panti, sampai cerita cinta monyet yang beredar di saat
kami masih berstatus anak ingusan.
Pagi itu, jam 10.00 aku pulang kampung.
gilee ini baru rekor kekalahan terbesar liverpool terpecahkan selama sekitar 76 thn yg lalu, liverpool takluk di kandangnya, Anfield 3-6 dari Arsenal The "gunnung" di perempatfinal League Cup. setelah sebelumnya KO 1-3 di kancah FA Cup.
"apa yang kau lakukan Hyypia, Gerrard, Dudek?!!"
penyakit yang namanya "inkonsistensi" bener-bener belum sembuh dari kaki-kaki pemain liverpool.
Tahun baru (ngingetinnya, gak terlalu telat kan?) mengingatkan kita akan perlunya introspeksi diri atas berbagai peristiwa di tahun lalu serta mengingatkan kita akan banyaknya harapan, cita-cita dan tuntutan hidup di tahun baru..
So.. I hope I get many good moments in this new year.. ya 4JJI..
2007.. maybe will be an important year in story of my life.
Mudik, semua orang juga tahu apa arti mudik kalo diartiin secara harfiah. Yah, singkat kata bolehlah diartiin sebagai pulang kampung. Kalo kata orang padang tuh "Pulang Basamo" (kemaren ngeliatin selebaran ajakan mahasiswa asal Sumbar untuk pulang bareng naek bis gitu).
Mudik biasanya dilakuin sebagian besar masyarakat Indonesia ketika hari-hari menjelang maupun setelah hari raya agama Islam, Idul Fitri.
Mudik menurut gua –yang notabene masih berstatus "dibiayai orang tua buat sekolah baek-baek"– adalah ketemu keluarga. Jadi, siapa pun orangnya, walaupun saat mudik kita nggak ke kampung halaman tempat kelahiran kita, yang namanya mudik bisa dipastiin tujuannya adalah ketemu keluarga, baik itu ortu, sodara kandung, ato sodara jauh.
Mau makna yang lebih dalem lagi ? Berikut ini berbagai maksud dan tujuan yang dilakuin seseorang ketika ingin mudik ke tempat keluarganya berdasarkan kisaran umurnya.
1. Para pemudik dengan umur 15-25an,
seperti mahasiswa ato anak sekolahan ato juga bisa pekerja pemula. Biasanya mereka
bermaksud ketemu keluarga baik ortu n sodara setelah menjalani perantauan. Tapi kalo yang biasanya gua survey ma teman-teman gua, neh anak-anak kebanyakan pada pengen ketemu temen lama maupun temen baru, ampe ketemu pacar lama maupun pacar baru. Ketika tiba di kampung halamannya, acara yang paling diincar adalah REUNI ma temen-temen lama. Dan itu menjadi prioritas utama sebelum ketemu keluarga!!
Bahkan, pernah gua temuin seorang oknum, ketika dia sesaat sampe di kampung halamannya
bukannya langsung ke rumah ortunya, tapi malah nginep di rumah calon mertua!! alias rumah
pacarnya
2. Para pemudik dengan umur 25-35an,
yah ini mungkin termasuk kaum pekerja punya sedikit waktu liburan mudik.
Mereka mudik saat-saat tiket mudik lagi melambung tinggi alias kena tuslah. Terus, baliknya
juga kena tuslah. Tuntutan kantor sih. Musti cepet balik kerja.
Gua pernah nemuin objek penderita, seorang pekerja perusahaan yang direkturnya seorang
Yahudi, menganggap Idul Fitri bukanlah suatu hari raya suatu agama, so tuh pekerja terpaksa
memanfaatkan cuti kerjanya buat mudik.
So, kaum ini adalah kaum yang bener-bener manfaatin waktu yang mepet tersebut.
Mulai dari sekedar ketemu keluarga besar untuk sungkeman pas hari raya, ketemu temen
lama, cari relasi n kenalan baru, cari ide-ide bisnis di daerahnya, ampe ketemu ma calon
pasangan hidup beserta sekeluarganya buat ngajuin lamaran nikah, "kapan lagi euy ingat
umur!!"
HeHeHe… Emank otak nih kaum bener-bener dipaksa untuk berpikir agar tuh umur nggak
disia-siain. Maklum para pemikir masa depan ini gak mau masa depannya suram alias
Madesu.
3. Para pemudik dengan Umur 35an ke atas,
kaum dengan kisaran umur ini jalan pemikirannya udah sangat jauh berbeda dengan dua
kaum di atas. Biasanya asal ketemu keluarga n sodara itu aja udah cukup kok. Contoh kaum
ini mereka yang berprofesi jauh dari keluarga seperti, TKI, TKW, ato pelaut. Mereka mudik
untuk menyenangkan keluarga setelah lama berpisah. Kalo seorang bapak misalnya, biasanya
ngebeliin banyak oleh-oleh buat anak istrinya.
Gak semua orang beruntung bisa mudik di hari raya. Mereka yang gak beruntung ini biasanya terkendala masalah waktu, biaya, atopun tiket. Yup, masalah tiket merupakan salah satu masalah utama pemerintah menjelang hari-hari mudik se-nasional selain masalah-masalah penting laennya. Mulai dari masalah penumpang kehabisan tiket, jalanan mudik pada rusak berat, ban bis bocor di jalan (haa??), kecelakaan bertambah pesat karena supir pada ngantuk karena abis minum semalam (ngeri!!), para calo tiket merajalela, ampe backingnya calo tiket yang ternyata oknum pejabat
So, bagi kaum yang beruntung bisa mudik tahun ini, bersyukurlah karena kamu bisa bertemu dengan keluarga amat kamu cintai.
Tapi, bagi kaum yang belum beruntung gak bisa mudik tahun ini, kamu pantas was-was.
Soale, kamu bakalan pening plus meriang-meriang karena dihujani pertanyaan seperti ini,
"Nak, kenapa ndak pulang? lagi sibuk po disana?", dan
"Fren, kapan kau balik? Di sini lagi asik reunian neh!", ato bisa juga
"Bang, kok abang gak pulang-pulang sih? udah 2 tahun abang gak pulang! abang dah punya yang lain ya disana?!! aku minta putus bang!!"
"HeHeHe, bagi yg bener-bener ngalamin gak mudik tahun ini, gak usah dimasukin hati yahh, it’s only jokes"
by Your Coolest n Care Friend
Crizosaiii Okt 2006
Sambungan : Kisah Seorang Muallaf
******
Saat saya masuk ke koridor masjid, umumnya, saya
tegur setiap orang yang berdiri di sekitar koridor
dengan salam dan pertanyaan kabar. Hampir semuanya
mengerti, bahwa saya sangat terbatas dalam
berbahasa Arab. Sehingga mereka akan menjawab
pertanyaan saya dengan bahasa Jerman.
Malam itu,
sapaan saya juga tertuju kepada Pemuda itu,
"Assalaamualaykum, Daniel.“
"Waalaykumusalaam, Sultan.“
"Kheif Halak?“ lanjut tanyanya.
"Alhamdulillah, mir gut. Und dir?“ (Alhamdulillah,
saya baik. Dan kamu?) sambung saya dengan bahasa
Jerman.
"Alhamdulillah, bi khoir."
Saya tertegun.
MasyaAlloh dia sangat bangga dan
lantang menjawab dengan bahasa Arab. Bara
semangatnya memecut saya untuk berusaha lebih
tahu.
Hingga akhirnya dengan "lancang“ saya
tanyakan kepadanya, "Daniel, kamu terlihat sangat
tertarik sekali dengan bahasa Arab, sedangkan saya
justru sangat tertarik untuk berkomunikasi dengan
bahasa Jerman."
Dengan serius ia menjelaskan, "saya ingin seperti
brüder-brüder yang lain, yang setiap selesai
shalat berjamaah bisa mengerti ceramah yang
dibawakan oleh imam masjid. Saya sangat malu,
karena biasanya saya hanya memandang imam tanpa
makna. Tak sepatah kata pun yang saya mengerti.
Paling, hanya ucapan salam pembuka, dan salam
penutup.
Sungguh, saya ingin sekali kelak mengerti
pesan-pesan yang imam sampaikan."
Mendengar kata-kata bersemangat itu saya semakin
melihat sinaran mutiara di wajahnya. Benar-benar
azzam yang luar biasa.
Dia melanjutkan, "Saya ingin kelak seperti Brüder
Ayat, yang sudah hampir hafal Al-Quran. Setiap
kali shalat, ayat-ayat yang dipakainya selalu
berbeda. Walau saya baru memeluk Islam, sungguh,
sangat berat sekali bagi saya untuk mencoba
menghafal surat-surat pendek di Al-quran. Itu
membuat saya cukup malu.
Semoga kelak dengan
bahasa Arab, saya tidak hanya punya bacaan shalat,
tapi juga mengerti apa yang saya lafalkan."
Untaian kalimat itu, lagi-lagi, membuat saya
terkesima. Dan teringat sebuah sms yang masuk 5
bulan yang lalu, dari Dietrich, seorang kawan
Jerman yang juga baru masuk Islam.
Sebuah kalimat
dengan tiga tanda seru di belakangnya, "Brüder,
saya sudah hafal Al-falaq!!!"
Sudah dua puluh tahun lebih saya hidup di
lingkungan keluarga Islam.
Namun ketika satu per
satu ayat-ayat Al-Quran mengisi memori kepala
saya, rasa-rasanya tidak pernah saya merasa
terharu yang sangat, layaknya kegembiraan Daniel
dan Dietrich.
*****
Setelah dengan sempurna sholat sunnah ba´da Isya.
Dengan hangatnya pemuda itu tersenyum, dan
menyalami makmum di sampingnya.
Pemuda berghamis dan berpeci putih itu adalah
Daniel Ibrahim. Muallaf yang baru mengenal Islam
dalam tempo tiga bulan. Sungguh, ia tidak hanya
berubah, namun telah ia berkilau.
Sedangkan kita?
Ya Robbi, Ihdinassirotol mustaqiim…
————————–
Brüder : Saudara laki-laki.
Dalam kaitan ini
bermakna saudara seiman.
—————————
"Neh, ada kisah seorang Muallaf yang mungkin dapat jadi bahan instropeksi untuk diri
kita betapa kita mungkin selama ini belum serius dalam mengakui bahwa
kita adalah seorang Muslim"
===============================================================================
taken from http://www.eramuslim.com/atc/oim/451d706c.htm
===============================================================================
Usai salam akhir sholat Isya, masih saya amati
paras jamaah lainnya, yang malam itu benar-benar
membuat masjid komunitas Palestina itu benar-benar
hidup. Wajah-wajah kegembiraan menyambut datangnya
bulan keagungan. Semuanya sumringah luar biasa.
Lintasan mata saya terfokus kepada seorang makmum
di deretan depan saya. Penampilannya rapih luar
biasa. Berpakaian ghamis putih, dan berpeci putih.
Dan yang lebih berkesan adalah warna kulit dan
guratan rambutnya yang memastikan saya untuk
berpendapat ia seorang muslim Jerman. Siapakah dia?
******
Jelang waktu sholat Maghrib. Pemuda itu terlihat
eksentrik dari yang lainnya. Di kala makmum yang
lainnya berassesoris peci, pemuda itu justru
terlihat bangga dengan anting dan beberapa kalung
yang melingkar di lehernya. Celana Jeans belel dan
sehelai kaos putih berlambangkan sebuah produk
ternama milik negara Paman Sam pun menyelimuti
tubuhnya. Gayanya sangat up to date dan funky.
Seakan tersihir, masih saja saya amati gerak gerik
pemuda itu. Lebih-lebih perhatian saya memuncak
ketika dia "mencoba“ sholat sunnah. Punggung dan
kedua kakinya terlihat sulit untuk rukuk dan duduk
di antara dua sujud. Jari-jari kakinya tidak
bersahabat untuk terlipat dengan sempurna. Apakah
dia seorang muallaf?
Saya penasaran untuk mencari jawabnya. Setelah
keluar dari masjid, langsung saya tanya Muhammad
-seorang kawan berkebangsaan Arab- perihal itu.
Dan dengan lantang Muhammad meng-iya-kan tanya
saya. Bahkan Muhammad langsung mengenalkan saya
kepada pemuda itu,
"Hallo Daniel, hier ist ein Student von
Indonesien. Der will mit dir kennen lernen,“
(Hallo Daniel, ini ada mahasiswa Indonesia yang
ingin berkenalan dengan kamu,)
"Hai, Ich bin Daniel.“ (Hai, saya Daniel) Sapanya
ramah, sambil menjulurkan kedua tangannya.
„Assalaamualaykum Daniel. Ich bin Sultan. Freut
mich, dich kennen zu lernen,“ (Assalaamualaykum
Daniel. Saya Sultan. Senang bisa berkenalan denganmu,)
Dia hanya tersenyum ringan. Tak ada jawab atas
salam saya. Yang membuat saya berkesimpulan dia
memang benar-benar seorang Muallaf baru. Lantunan
tasbih sempat mewarnai kekaguman saya. Bukan hanya
karena keramahannya, tapi karena dia telah
dianugerahi anugerah yang termahal, hidayah.
Sejak saat itu, setiap kali saya sempatkan untuk
sholat berjamaah di masjid itu, wajah Daniel tidak
pernah absen dari pandangan saya. Tidak hanya
kalung dan anting yang telah alpa dari tubuhnya.
Perubahan-perubahan yang terjadi di dirinya
sungguh membuat saya terkagum-kagum.
Senja itu. Setelah shalat Ashar di kampus, saya
sempatkan untuk menuju ke masjid komunitas
Palestina itu. Jaket yang biasa saya pakai,
tertinggal di sana. Ketika pintu masjid telah
terbuka, tidak ada seorang pun yang menjawab salam
saya. Dalam hati saya bergumam, "Pasti tidak ada
orang,“ dengan ringan saya jelajahi ruang depan
masjid. Jaket merah itu masih tergantung di sana,
dan segera saya ambil. Namun, sebelum anjak
meninggalkan masjid saya ingin sebentar menuju ke
kamar kecil. Ruangan tersebut telah terang. Suara
siraman air dan gesekan sikat membuat saya
berkesimpulan, ada seseorang yang sedang
membersihkan kamar mandi. Usai wudhu, saya
sempatkan untuk menyapa orang itu. Dan saya
terkejut luar biasa. "Waalaykumussalaam," Daniel
yang menjawab salam itu sembari memegang sikat!
MasyaAlloh…
******
Jogja makin berevolusi ke arah padang pasir tanpa pasir..
Dalam bulan Ramadhan ini mulai jam 8 pagi ampe jam 16:30. Jogja bagai gurun Arab yang siap menyengat makhluk-makhluk diatasnya. Selalu begitu..
Wiihhh, sambil ngelap nih dehidrasi, gua terus mengendarai motor dari pagi ampe sore nyari-nyari titipan kakak gua, temen gua, sepupu gua, sambil sempatin daftar yudisium.
Sebelum mudik buat lebaran, gua diamanahin bawa titipan pas balik ntar.
Tapi, ada aja masalah yang ditemuin tiap kali mo selesain satu kerjaan.
Mo beliin voucher titipan kakak gua, tapi barangnya lagi langka bgt bin mahal pula. Udah cari di tiga tempat yang jaraknya berjauhan tetep aja langka euy.
"huff.. Moga ntar ketemu deh…"
Legalisir ijazah kakak gua di UII atas. Prosedurnya ribet gak kayak di MIPA yang cuma di satu tempat baik itu bayarnya dan legalisirnya. Di UII, gua musti bayar di loket bank di rektoratnya trus baru ke FTI buat legalisirnya. Selesai legalisirnya dalam tempo 4-5 hari. That’s very long tempo.
Cari gitar akustik-elektrik, dah survey2 di tiga tempat. Hmm, kayaknya ada yg cocok. Tapi, pas ketemu ma Papanya sepupuku, eh yg ada malah diminta cari yg biasa aja.
"huff.. Moga ntar bisa dicari seperti yang dimauin deh.."
Cari pesenan DVD Combo n kalkulator Casio FX buat temen gua. Gua dah survey jg di beberapa tempat nih. Hasilnya, ada yang lumayan murah dan sesuai dengan yang diminta.
Tapi.. "aduh jangan pake duitku dulu donk, I’m in critical financial condition."
So.. Kayaknya pembeliannya tertunda.
Dengan jadwal mudik tanggal 9 Okt ini, gua pengen selesain semua kerjaan ini.
Mulai daftar yudisium dah kelar tinggal nunggu pengumumannya aja. Kemaren dah
isi draft nilai seluruh matkul gua sambil isi judul TA dalam bhs
inggris. Gua coba daftar wisuda (5-20 okt) yg sangat mepet waktunya dengan waktu mudik gua.
Alhamdulillah, walaupun badan terasa capek, pegel, meriang-meriang, gua selalu coba untuk
bersabar untuk paling tidak gua udah jalanin segala amanah yg udah
diberikan ma gua.
Jadi, nyanyikanlah kesabaranmu..
Di umur segini yang notabene baru masuk 20an…
Perjalanan hidup gua sekarang, gua pikir.. inilah masa-masanya seseorang itu berhak menentukan arah hidupnya sendiri-sendiri. gua liat temen-temen gua dah punya tujuan hidup masing-masing. begitu pula dengan gua. Apa yang kita impikan hari ini akan menjadi kenyataan di hari yang akan datang, bila kita menjalaninya dengan sungguh2..
Ini akan menegaskan akan jadi apa seseorang tersebut di masa akan datang.
Apakah dia akan jadi pemenang ato hanya jadi seorang pecundang yang hanya meratapi nasibnya sendiri. Menurut gua siapa yang siap dengan berbagai kemampuan, mental, spiritual, dan kekuatan hati, itulah orang-orang yang menurut gua beruntung, orang yang akan menjadi pemenang.
Tentunya, gua harap gua dan temen2 gua gak ada yang jadi pecundang.
Berhasil ato tidaknya sebuah rencana, hanyalah Allah SWT yang menentukan. Semua kemampuan teknis maupun non-teknis kita dapat dengan Allah SWT berikan dengan mudah. Semua itu juga dapat Allah SWT cabut begitu saja dari diri kita. Kita hanya bisa berusaha, bekerja, dan berdoa.
Gua ingin gua dan temen2 gua bisa maju bersama walaupun tidak dalam arah yang sama. Tapi gua harap arah yang kita tuju masing-masing punya makna yang sama, yaitu menuju ke arah yang lebih baik, lebih cerah, dan lebih sukses.
Note :
Blog ini gua persembahkan bagi temen-temen gua yang bakalan kabur dari lingkungan gua secara fisik. Tapi secara batin, temen-temen gua ini selalu gua ingat akan jasa-jasanya yang pernah membuat gua "tertawa" dan "menangis" selama ini.
Thanks For Being My Friends Bro…